SMK Nurul Abror Al Robbaniyin

Maulid Nabi 2026: Jangan Terjajah AI, Jangan Menyerah pada Keterbatasan!

30 August 2026
Oleh: Administrator
Dilihat: 036 kali
Bagikan:
Maulid Nabi 2026: Jangan Terjajah AI, Jangan Menyerah pada Keterbatasan!

Banyuwangi, 27 Agustus 2026 — Suasana penuh khidmat dan semangat mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh OSIS SMK Nurul Abror Al-Robbaniyyin pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar sekolah untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengambil hikmah dan keteladanan dari perjalanan hidup beliau.

Peringatan Maulid Nabi dikemas dengan konsep yang menarik dan berbeda. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keterlibatan dua orang Master of Ceremony (MC) yang membawakan rangkaian acara secara bergantian menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Penggunaan dua bahasa tersebut tidak hanya memberikan suasana yang lebih dinamis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya sekolah untuk melatih keberanian, kemampuan berkomunikasi, serta keterampilan berbahasa Inggris para siswa. Nuansa keagamaan pun berpadu dengan semangat pendidikan dan pengembangan kompetensi siswa.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan rangkaian shalawat sebagai bentuk penghormatan serta ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan penyampaian pesan-pesan inspiratif sebelum memasuki acara inti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pesan Pengawas PAI: Jangan Sampai Kemudahan AI Mematikan Daya Pikir

Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMK Nurul Abror Al-Robbaniyyin tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menghadirkan pesan-pesan yang relevan dengan tantangan generasi muda saat ini.

Dalam sambutannya, Bapak Farid Wajdy, S.Ag., M.Pd.I., selaku Pengawas PAI, mengajak para siswa untuk menyikapi perkembangan Artificial Intelligence (AI) secara bijak. Menurutnya, AI memang memberikan kemudahan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk dalam kegiatan belajar. Namun, kemudahan tersebut jangan sampai membuat siswa kehilangan kemandirian dalam berpikir.

Beliau menggambarkan kebiasaan yang mulai muncul di kalangan pelajar: ketika menemukan soal yang sulit, soal tersebut cukup difoto, dikirim kepada AI, kemudian meminta jawaban. Cara tersebut memang dapat memberikan solusi dengan cepat, tetapi jika terus dilakukan tanpa memahami prosesnya, justru dapat membuat seseorang menjadi bergantung pada teknologi.

“Anak-anak sekarang itu manusia selesai dengan AI. Ketika kalian kesulitan ada soal, difoto, kirim ke AI, lalu kalian minta buatkan jawabannya. Ketika kalian terbiasa menggunakan AI, maka AI akan memberikan jawabannya. Persoalannya tidak sampai di situ, karena dampaknya kalian akan menjadi orang yang dependen (terjajah).”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa AI seharusnya membantu manusia untuk berkembang, bukan menggantikan manusia dalam berpikir. Teknologi boleh dimanfaatkan untuk mencari referensi, mendapatkan penjelasan, maupun membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi proses memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan tetap harus dilakukan oleh manusia.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, para siswa diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang pandai menggunakan AI, tetapi juga menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Ustadz Ahsanul Khuluq: Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah

Hadir sebagai pemateri, Ustadz Ahsanul Khuluq merupakan salah satu sosok yang memiliki keterikatan kuat dengan Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin. Berangkat dari perjalanan sebagai santri, beliau kini dikenal sebagai Owner PT Mabrur Baitullah Indonesia (MBI). Kehadirannya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi semakin istimewa karena tidak hanya membawa materi keagamaan, tetapi juga berbagi pengalaman perjalanan hidup yang sarat dengan perjuangan, keyakinan, dan semangat untuk terus berkembang.

Salah satu pesan utama yang disampaikan beliau adalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Menurutnya, manusia tidak seharusnya membatasi diri hanya karena merasa memiliki kekurangan atau keterbatasan. Selama seseorang mau berusaha, belajar, berdoa, dan tidak mudah menyerah, selalu ada kemungkinan dan jalan yang dapat dibukakan oleh Allah SWT.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan hidup beliau sebagai seorang santri. Ustadz Ahsanul Khuluq menceritakan bahwa ketika dirinya berada pada titik ingin berhenti, ia memilih untuk tidak berpamitan kepada Kiai. Hingga ketika suatu ketika ditanya oleh masyarakat mengenai asal pesantrennya, beliau menjawab:

“Saya ketika sudah ingin berhenti, tidak pamit ke Kiai. Jadi ketika ditanya oleh masyarakat, ‘Sampean alumni mana?’ Saya menjawab, ‘Saya bukan alumni pondok pesantren manapun, tapi saya adalah santri Nurul Abror Al-Robbaniyyin.”

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa bagi beliau, menjadi santri bukan semata-mata tentang status sebagai alumni. Lebih dari itu, nilai, ilmu, pengalaman, dan perjuangan selama menjadi santri merupakan bagian yang terus melekat dalam perjalanan hidup seseorang.

Dari kisah tersebut, beliau mengajak para siswa untuk tidak mudah minder dengan kemampuan yang dimiliki. Kecerdasan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Setiap orang memiliki potensi dan jalan perjuangannya masing-masing. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar, berusaha, memperbaiki diri, dan tidak menyerah pada keadaan.

Semangat itulah yang kemudian dikuatkan melalui ungkapan khas yang disampaikan beliau kepada para santri, “Santri Nurul Abror haram goblok.” Ungkapan tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan sebagai dorongan agar santri tidak pasrah terhadap keterbatasan dan tidak berhenti belajar. Seorang santri harus memiliki kemauan untuk terus menuntut ilmu, mengembangkan potensi, dan berusaha menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Ustadz Ahsanul Khuluq mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar semaksimal mungkin, sementara hasilnya Allah SWT yang menentukan. Karena bagi Allah SWT, tidak ada yang mustahil.

Maulid Nabi, Momentum Menjadi Generasi yang Berakhlak dan Mandiri

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMK Nurul Abror Al-Robbaniyyin bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Pesan tentang bijak menggunakan teknologi, pentingnya kemandirian dalam berpikir, semangat untuk terus belajar, serta keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT menjadi bekal berharga bagi para siswa.

Melalui keteladanan Rasulullah SAW dan pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki ilmu dan keterampilan, tetapi juga berakhlak, mandiri, percaya diri, pantang menyerah, dan berani mengembangkan potensi diri. Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk pribadi yang mampu berpikir, berusaha, dan tetap bersandar kepada Allah SWT.